Serial Daraemon Merupakan Film Terbaik Dimasanya Yang Sangat Mendidik

No Comments
http://www.atm303.com/

Coba lihat lagi kisah-kisah petualangan Doraemon yang dulu pernah kamu baca pas tumbuh besar di Indonesia dekade 90’an. Ternyata topik yang dibahas berat lho, mencakup kerusakan lingkungan sampai pembersihan etnis.

Dulu, saban Minggu, saya bakal bangun pagi-pagi lalu duduk manis di depan perangkat TV di rumah. Bagi anak Indonesia yang besar akhir 90’an sampai awal 2000-an, acara TV di Minggu pagi adalah surganya film kartun yang menyenangkan. Isinya macam-macam dari P-Man, Chibi-Maruko Chan, Hamtaro, dan sebagainya. Di antara semua itu, primadonanya tetap film kartun Jepang yang muncul tepat jam 8 pagi di RCTI. Begitu Doreamon muncul di layar kaca, saya langsung senang bukan kepalang. Bagi saya, ritual nonton Doraemon di hari minggu adalah rutinitas sederhana bikin seminggu setelah jadi menyenangkan untuk dijalani.

Doraemon awalnya dimuat di enam majalah yang berbeda pada 1969. Pada 1973, Doraemon berusaha diangkat menjadi sebuah serial anime. Namun, sayangnya anime awal ini cuma bertahan selama 5 bulan di Jepang. Namun, pada 1979, Shin-Ei Animation mengajukan diri memproduksi Doraemon yang kemudian jadi sangat populer sampai produksinya dihentikan pada 2005. Sejak saat itu, Doraemon hampir bak “Maskot Resmi Jepang” (Kementerian Luar Negeri Jepang bahkan memilih Doraemon sabagai duta budaya anime Jepang pada 2008) dan sepanjang kiprahnya sudah bikin jutaan anak gembira.

Saya salah satunya.

Tonton dokumenter atm303 mengenang nostalgia acara kartun minggu pagi yang berkesan bagi generasi millenial Indonesia:
Tumbuh besar di Indonesia, saya hampir selalu dibikin terpana oleh serial tentang robot kucing ajaib ini. Aspek-aspek ceritanya—selipan humor yang aphoristic, kondisi keluarga kelas menengah asia, dan kedekatan ceritanya dengan saya—sangat menarik, terutama konsep punya robot kucing yang mengantongi jutaan gawai paling mutakhir di dalam perutnya. Sebagai seorang anak ingusan Indonesia, saya, seperti anak-anak sebaya lainnya, past pernah mendambakkan punya robot sekeren Doraemon. Tambahan lagi, waralaba ini selalu punya cerita tentang Doraemon dkk kerap pergi menjalani petualangan ganjil dan ajaib yang membuka mata saya akan dunia khayalan lain yang menakjubkan.

Tapi, yang alpa kita perhatikan dulu, serial Doraemon—terutama dalam Edisi Adventure—selalu berhasil mengajarkan kondisi dan sifat alami manusia. Meski beberapa karakter dalam semesta Doraemon bukanlah manusia, mereka benar-benar bisa menggambarkan tingkah laku manusia yang sejati.
Mari kita ambil contoh yang lucu sekaligus sedikit bikin merinding. Dalam Doraemon: Nobita in the Robot Kingdom, Nobita dikisahkan ingin punya robot baru padahal sudah punya Doraemon, sebuah robot kucing ajaib dari abad 22. Nobita kemudian mencoba mebeli robot baru dengan menggunakan kantong ajaib cadangan Doraemon. Malangnya, seperti biasa, ia malah bikin kekonyolan. Si anak yang enggak pernah lewat kelas empat ini salah pijit tombol. Imbasnya, puluhan robot muncul di depan muka Nobita, salah satunya sebuah robot anak laki-laki.

Singkat cerita, Nobita secara tidak sengaja terkirim ke dunia paralel—maksudnya Bumi—di mana Nobite hidup terpisah dari ibunya. Di Bumi paralel ini, manusia hidup berdampingan dengan robot. Sayangnya, ada seorang Ratu yang mengubah robot ini jadi mesin nir-emosi.

Di mata saya, cerita ini menyingkap kecenderungan manusia menyikapi teknologi: sekeren dan seberfaedah apapun sebuah teknologi, kita terus berusaha mati-matian memperbudak teknologi, karena takut dampak sebaliknya..

Itu baru tentang kegagapan kita akan teknologi. Di lain cerita, tepatnya Doraemon: Nobita and the Birth of Japan, juga pernah menyinggung pemusnahan etnis, enggak percaya kan?

Categories: Uncategorized

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *